ADALAH sebangsa Jin, Gaza namanya.
![]() |
Jin ini tidak jahat. Ia termasuk salah satu dari bangsa jin yang saleh. Suka membantu dan melindungi orang yang beriman dan berhati mulia. Tentu saja dengan caranya sendiri dan tanpa menampakkan diri.
Jin Gaza tinggal pada sebuah kebun tomat milik seorang wanita tua. Nenek Nyinyi, demikian orang memanggil namanya. Wanita tua ini tidak mempunyai sanak dan keluarga. Ia hidup seorang diri di rumahnya yang kecil dan sederhana yang dibangun di tengah-tengah kebun tomatnya yang luas.
Satu-satunya kawan yang tak pernah lepas dari tangannya adalah sebuah tongkat butut. Tongkat ini adalah peninggalan dari suaminya yang telah almarhum beberapa belas tahun yang lalu.
Nenek Nyinyi tidak tahu bila kebunnya yang subur dan terawat rapi itu ditunggui oleh Jin Gaza.
Suatu pagi wanita tua itu berniat hendak memeriksa kebunnya. Akan tetapi alangkah terperanjatnya ketika ia telah berada di luar pintu. Di tengah halaman rumahnya itu nampak seorang lelaki tengah tidur dengan pulasnya. Tidur dengan begitu saja, tanpa alas dan selimut di atas rumput yang dingin dan basah oleh embun. Di dekatnya ada sebuah keranjang penuh dengan buah tomat.
Tahulah Nenek Nyinyi, bahwa orang itu tentu pencuri yang telah memetik tomat di kebunnya. Mungkin karena lelah memetik tomat begitu banyaknya sehingga ia tertidur.
Namun Nenek Nyinyi tidak marah. Ia malah merasa iba melihat cara tidur pencuri itu.
Dengan hati-hati dihampirinya pencuri itu. Nenek Nyinyi bermaksud hendak membangunkan dan menyuruh pindah tidur di dalam rumahnya. Akan tetapi baru saja tersentuh ujung jari tangannya, tiba-tiba pencuri itu tersentak bangun. Ia menatap bingung dan juga takut terhadap Nenek Nyinyi yang berdiri di dekatnya dengan sepotong kayu di tangannya. Pencuri itu mengira dirinya akan dipukul.
Maka buru-buru pencuri itu bersujud di kaki Nenek Nyinyi seraya memohon-mohon ampun. "Ampun, Nek.... ampun! Saya jangan dipukul!... Saya berjanji tidak akan mencuri tomat lagi..."
Mendengar pernyataan itu Nenek Nyinyi merasa suka.
"Siapa namamu Nak?" tanyanya.
"Nama saya Apus, Nek. Saya mencuri tomat ini karena terpaksa, Nek. Anak saya sakit, saya perlu uang untuk membeli obat," ujar pencuri dengan nada memelas.
Nenek Nyinyi terharu. Dengan langkah tertatih-tatih ia masuk rumah dan sebentar kemudian kembali lagi.
"Terimalah uang yang tak berapa banyak ini. Juga bawa tomat-tomat di dalam keranjang itu."
Pencuri itu kelihatan gembira. Tapi ragu-ragu untuk menerima pemberian itu. Ia pura-pura menolak.
"Tidak, Nek. Diberi ampun saja sudah sangat berterima kasih. Bagaimana saya harus berkata atas pemberian semuanya ini?"
"Ambillah. Dan segeralah membeli obat buat anakmu!" desak Nenek Nyinyi. Maka tanpa ragu-ragu lagi pencuri itu segera menyambar pemberian itu dan setelah mengucapkan terima kasih terus berlari pergi.
Nenek Nyinyi menghela napas. Ia merasa puas bahwa sepagi ini telah bisa membantu orang yang dalam kesusahan. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Apus telah berbohong. Ia mencuri bukan karena anaknya sakit, melainkan hanya untuk modal berjudi.
Setelah bayangan Apus tak nampak lagi wanita tua itu melanjutkan niatnya. Wajahnya berseri-seri melihat kebunnya yang menghijau subur. Ia memetik beberapa puluh buah tomatnya yang telah ranum dan membagikan kepada para tetangga yang kebetulan lewat di sana.
Menjelang tengah hari Nenek Nyinyi kembali masuk rumah.
JIN GAZA sangat senang tinggal di kebun yang terawat dengan baik itu. Ia tak pernah mengganggu siapa pun juga. Kecuali terhadap pencuri atau orang yang suka mengambil tomat tanpa seizin yang punya terlebih dahulu, Jin Gaza tak segan-segan untuk memberi pelajaran.
Seperti yang telah dialami oleh Apus. Karena mencuri ia telah dibuat tidur oleh Jin Gaza lalu ditaruh di halaman rumah yang akhirnya ditemui oleh Nenek Nyinyi tadi.
Namun rupanya Apus masih penasaran. Pada malam berikutnya ia mengajak kedua orang temannya. Mereka telah sama-sama kalah berjudi. Niatnya kali ini bukan untuk mencuri tomat, tetapi untuk merampok Nenek Nyinyi. Apus meyakinkan kedua temannya bahwa perempuan tua itu punya banyak simpanan uang yang diperoleh dari menjual hasil kebunnya.
Apus tak mau bercerita bahwa dirinya telah pernah dibuat tidur secara aneh. Sehingga kedua temannya itu menganggap remeh dan memastikan usahanya akan berhasil.
Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Rembulan mengambang bagai bola perak. Sinarnya berpantulan menimpa buah-buah tomat yang ranum segar.
Ketiga pencuri itu berindap-indap memasuki kebun.
Apus memang cerdik. Ia tak mau jalan duluan, tapi paling belakang. Alasannya untuk mengawasi kalau-kalau ada orang di belakang mereka.
Sementara itu Jin Gaza sudah tahu kedatangan para pencuri sejak masih berada di luar pagar. Ia merasa gusar begitu tahu para pencuri itu hendak mengganggu ketenangan Nenek Nyinyi.
"Mereka perlu diberi pelajaran," gumam jin itu. Terutama Apus, yang tak mau kapok juga itu.
Mereka telah berada di tengah-tengah kebun. Sudah hampir mendekati rumah yang dituju. Saat itulah dengan caranya sendiri Jin Gaza mulai turun tangan. Maka mereka ditiup satu-persatu.
Akan tetapi ketiga pencuri itu tidak menyadari akan keganjilan yang tiba-tiba dilakukannya. Menurut perasaan masing-masing mereka tetap berindap-indap maju ke depan. Padahal mereka berindap-indap melangkah mundur. Mundur-mundur ke luar kembali dari dalam kebun. Dan masih dengan jalan mundur itu mereka menelusuri gang-gang yang tadi dilalui ketika berangkat.
Akhirnya mereka tiba kembali di tempat di mana mereka tadi mengadakan pertemuan. Yaitu di tepi kali kecil yang airnya penuh dengan lumpur.
Apus yang ketika berangkat tadi berada paling belakang kini telah tiba lebih dulu. Masih terus mundur, mundur dan... byur! Apus tercebur ke kali. Berbarengan dengan bunyi 'byur' itu mereka pun tersadar. Sehingga kedua pencuri yang lain itu masih sempat menguasai diri. Mereka menjauhi tepi kali.
"Heh?! Kita kok masih di sini-sini saja?" seru salah seorang pencuri itu penuh keheranan.
"Aneh! Padahal kita tadi berada di dalam kebun tomat!" sahut yang lain.
"Mana Apus?"
"Ya, di mana dia? Jangan-jangan...."
Mereka celingukan. Bingung, seperti orang baru bangun dari tidur.
Tiba-tiba mata mereka menangkap benda hitam bergerak-gerak naik dari dalam sungai. Saking kaget dan takutnya tanpa komando lagi mereka langsung lari terbirit-birit sambil berteriak-teriak, "Hantu! Tolong! Toloooongg ada hantu! Toloooooongngng...!"
Sementara itu benda hitam yang disangka hantu itu sebenarnya adalah Apus yang tadi tercebur di kali itu. Ia juga kaget dan takut begitu melihat kedua temannya berlarian tunggang-langgang sambil berteriak-teriak itu.
Wah, jangan-jangan hantu itu ada di belakang saya, sambil berpikir begitu tanpa mempedulikan lagi dengan lumpur yang membungkus sekujur tubuhnya Apus langsung ambil langkah seribu mengejar kedua temannya.
Di tengah malam buta itu pun akhirnya terjadilah kejar-mengejar sambil berteriak-teriak. Tentu saja kejadian itu membuat seisi kampung menjadi gempar.
Akhirnya mereka bertiga ditangkap. Lalu dengan beramai-ramai diserahkan kepada yang berwajib. ***

0 Komentar
Terima kasih sudah membaca, silahkan tinggalkan komentar!!