Advertisement

Main Ad

Tokoh : JS Badudu

Yusuf Syarif Badudu (1926–2016) merupakan salah satu tokoh penting dalam diskursus bahasa dan kesusastraan di Indonesia. Ia lahir di Gorontalo pada 19 Maret 1926 dan dikenal sebagai cendekiawan serta munsyi yang produktif menulis puluhan buku. Karya-karyanya seperti Membina Bahasa Indonesia Baku, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, Cakrawala Bahasa Indonesia, dan Pelik-Pelik Bahasa Indonesia masih mudah ditemukan di pasar buku bekas. Hal ini tidak terlepas dari besarnya oplah cetak pada masa itu, seiring dengan popularitas namanya yang luas di kalangan masyarakat. Tingginya minat pembaca bahkan mendorong penerbit untuk melakukan cetak ulang, menunjukkan betapa besar perhatian publik terhadap pemikiran kebahasaan yang ia sampaikan.



Dalam pandangannya, bahasa Indonesia adalah sesuatu yang perlu dimuliakan. Namun, ia tidak terjebak pada konsep “baik dan benar” yang kaku seperti yang sering dikampanyekan pada masa Orde Baru. Perjalanan intelektualnya juga tidak lepas dari perannya di majalah Intisari. Sejak November 1977 hingga awal 2000-an, ia menjadi pengasuh rubrik Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Dalam majalah tersebut, ia berdampingan dengan sejumlah tokoh penting lain, seperti Felix Tan, Tan Liang Tie, Slamet Soeseno, Karlina Supelli, dan HOK Tanzil. Kehadiran Badudu di Intisari, yang didirikan oleh PK Ojong dan Jakob Oetama, menjadi salah satu terobosan penting dalam perjalanan majalah tersebut.

Majalah Intisari sendiri dikenal sebagai majalah saku populer yang mengedepankan hiburan sekaligus pengetahuan bagi masyarakat umum. Seiring perkembangan zaman, majalah ini beradaptasi dengan menghadirkan rubrik kebahasaan yang diasuh Badudu. Hal ini sejalan dengan semangat keindonesiaan yang menjadi visi bersama para pendirinya, yaitu mengembangkan nilai-nilai kebinekaan dan realitas kemajemukan Indonesia. Dari rubrik tersebut, tulisan-tulisan Badudu kemudian dibukukan menjadi tiga jilid dengan judul yang sama dan pertama kali diterbitkan oleh Gramedia pada Mei 1983. Penerbitan ini didorong oleh banyaknya pembaca yang menginginkan kumpulan tulisannya dalam bentuk buku yang utuh.

Popularitas Badudu menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap bahasa cukup tinggi. Tulisannya tidak bersifat dogmatis, melainkan menjadi bahan diskusi yang menghubungkan pembaca dengan berbagai sumber seperti kamus, ensiklopedia, koran, dan majalah. Melalui cara ini, bahasa menjadi sarana untuk memahami identitas dan makna keindonesiaan. Selain melalui tulisan, Badudu juga aktif mengedukasi masyarakat lewat media elektronik. Ia pernah mengasuh program bahasa Indonesia di TVRI pada periode 1977–1979. Kehadirannya di layar kaca mendapat sambutan luas dan dinantikan oleh pemirsa, karena mampu mengarahkan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dalam kehidupan sehari-hari.

Memperingati 100 tahun kelahirannya, kiprah Badudu menjadi penting untuk direfleksikan kembali, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Bahasa Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman penurunan kualitas penggunaan akibat arus informasi yang begitu cepat. Dalam bukunya Cakrawala Bahasa Indonesia (1985), Badudu mengingatkan agar bahasa tidak dianggap remeh. Ia menegaskan bahwa berbahasa untuk kebutuhan sehari-hari memang mudah, tetapi untuk menyampaikan gagasan secara jelas, logis, dan terstruktur memerlukan latihan serta pembiasaan. Oleh karena itu, keterampilan berbahasa harus terus diasah agar mampu menjadi alat komunikasi yang efektif dan bermakna.

Posting Komentar

0 Komentar