Media sosial merupakan entitas yang tidak terpisahkan di kehidupan generasi Z dan milenial. Mulai dari pekerjaan, hiburan,hingga curhatan emosi disalurkan melalui media sosial. Akan tetapi, bagi sebagian orang, lama-lama ketergantungan dengan media sosial seolah menyandera kehidupan. Sebagian orang berusaha merebut otoritas diri dari penyanderaan digital tersebut.
Sebagian anak muda berusaha berdaulat atas algoritma media sosial dengan cara menekuni kembali hobi-hobi analog, yakni berupa kegiatan di waktu senggang yang tidak menggunakan tek-nologi digital. Kalaupun masih harus menggunakan teknologi
digital, frekuensinya minim.
Alya Lintang (28), seorang arsitek, sibuk menyelesaikan kemeja untuk pacarnya. Keme-
ja berwarna coklat itu terbuat dari kain katun yang tebal se-hingga diharapkan bisa tahan lama. Bunyi desing stagnan me-sin jahit listrik mengiringi ge-rakan tangan Alya memasuk-kan lembaran kain ke bawah tusukan jarum. ”Ini proyek pertama jahitan- ku, rencananya buat hadiah untuk pacar,” kata Alya di Tangerang Selatan, Minggu (15/3/2026).
Alya sudah dua tahun ini menekuni hobi menjahit. Berawal dari kegemarannya membeli
baju bekas (thrifting). Ia sering mendapat baju dengan harga murah,tetapi ketika dipakai ku-
rang pas di badan. Dari sana, ia mulai belajar untuk memermak baju karena kalau untuk jumlah
sebanyak itu, meminta jasa penjahit profesional pasti mahal.
Alya yang sibuk bekerja sebagai arsitek tidak memiliki waktu untuk mengikuti kursus menjahit secara konvensional. Ia kemudian mencari alternatif melalui internet dan menemukan kursus daring dari luar negeri yang dapat diakses kapan saja dengan pembayaran kartu kredit atau PayPal. Dari sana, Alya belajar secara bertahap hingga akhirnya cukup percaya diri untuk membeli mesin jahit listrik bekas. Baginya, menjahit memiliki kemiripan dengan pekerjaannya sebagai arsitek—sama-sama membutuhkan perancangan, seperti membuat pola dalam menjahit dan maket dalam arsitektur. Awalnya, ia hanya memermak baju bekas, namun kemudian menantang dirinya untuk membuat pakaian dari nol, hingga tercetus ide membuat kemeja kerja yang rapi dan tahan untuk aktivitas lapangan.
Motivasi Alya belajar menjahit juga dipengaruhi oleh kebiasaannya melakukan doomscrolling, yaitu menggulir media sosial tanpa tujuan yang justru membuat waktu terbuang dan menambah stres. Kini, ia menggunakan media sosial secara lebih bijak dengan mencari konten yang bermanfaat, seperti tutorial menjahit. Fenomena doomscrolling sendiri dijelaskan oleh psikolog Jiwika Hutajulu sebagai upaya pelarian dari kondisi yang dihadapi seseorang, namun tanpa disadari dapat berlangsung berjam-jam. Aktivitas ini memicu hormon dopamin yang menimbulkan rasa penasaran, tetapi tidak menghasilkan hormon kebahagiaan seperti endorfin, oksitosin, dan serotonin. Akibatnya, pengguna bisa mengalami kecanduan digital dan kehilangan kendali atas dirinya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Jiwika menerapkan kebiasaan menulis jurnal dengan tangan. Aktivitas ini membantu menyalurkan pikiran dan perasaan sekaligus mengaktifkan berbagai saraf otak. Dengan membaca kembali tulisannya, ia dapat mengevaluasi emosi dan menjernihkan persoalan yang dihadapi. Selain itu, hobi analog juga dilakukan oleh Rabin Gosal, seorang pekerja di bidang teknologi informatika, yang gemar memperbaiki tape deck dan Walkman lawas. Ia memanfaatkan media sosial untuk belajar, tetapi langsung mempraktikkannya secara nyata. Proses bongkar pasang tersebut memberikan kepuasan batin tersendiri ketika perangkat yang diperbaiki kembali berfungsi dengan baik.
Tape deck, jelas Rabin, bukan produk sembarangan. Di zaman produk itu pertama kali keluar,harganya selangit. Setelah 40-50 tahun kemudian, produk elektronik itu menjadi rongsokan dan dijual mural. Rabinmemperolehnya seharga 200.000-Rp 300.000 per unit.
”Bisa menemukan komponen yang rusak dan memperbaiki sampai tape berfungsi lagiitu kebanggaan. Saya juga ka-gum. Ini, kan, teknologi 50 tahun lalu, tapi kalau dirawat dengan baik kinerjanya tetap oke,”kata Rabin.
Kemampuan untuk menjadikan algoritma sebagai jembatanmenata hidup itu sejatinya paradoks. ”Sebagian generasi muda lelah dikendalikan oleh algoritma media sosial. Tapi, mereka belajar keterampilan analog juga dari media sosial dan internet. Memang bukan memakai algoritma yang trendi melainkan algoritma yang dipilih dan dikendalikan oleh pemakainya,” papar sosiolog Universitas Gadjah Mada Oki Rahadianto Sutopo.
Fenomena back to analog ini lahir dari romantisisme hal-hal retro atau jadul di media sosial. Generasi muda bernostalgia mengingat masa-masa ketika masyarakat bertani, berkebun, membuat pakaian sendiri, dan melakukan segala sesuatu hanya berbekal tangan.
Mereka yang tertarik mene-kuni kegiatan-kegiatan manual ini pun adalah anak-anak muda dengan privilese. Oki mene- rangkan, mereka memiliki ak- ses berupa modal uang untuk membeli bahan dan alat me- nekuni hobi serta, akses berupa waktu luang, dan akses kesa- daran untuk lepas dari kendali algoritma
”Sayangnya, mayoritas anak muda Indonesia tidak bisa lepas dari media sosial karena nafkah mereka dari sana. Misalnya pa- ra pekerja gig economy dan orang-orang yang berjualan di lokapasar. Berhenti bermedia sosial berarti berhenti mencari makan,” ucapnya. Sementara itu, semakin banyak anak muda memakai pen- dekatan berbeda. Bukan teng- gelam di dalam arus algoritma, melainkan membaca artikel bermutu dan menonton video yang konstruktif. ”Mereka sudah banyak ber- kesadaran mengenai konten yang mereka suka, konten yang bermanfaat untuk pengetahuan serta aktualisasi diri, dan akun-akun pembuat konten yang bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Alya Lintang, arsitek yang juga menekuni hobi menjahit, saat ditemui di rumahnya di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (15/3/2026). Ia menekuni hobi menjahit setelah awalnya menyukai dunia thrifting atau berburu baju bekas layak pakai.
KOMPAS/ALBERDI DITTO PERMADI Kolektor Walkman
0 Komentar
Terima kasih sudah membaca, silahkan tinggalkan komentar!!